Bataviase

Menjenguk Kota Tua Padang Setelah Gempa

Potensi wisata terkubur, asetnya pun terbengkalai. Kapankah lanskap sejarah ini dibenahi?

Usman Kansong

TIDAK layak huni, begitu bunyi tulisan yang masih terpampang pada secarik JL kertas yang ditempel di dinding Masjid Muhammadan, kawasan Kota Tua Padang, Sumatra Barat, empat bulan setelah gempa. Akan tetapi, setiap Kamis malam, ratusan orang menghuni masjid ini. Menjelang magrib, kaum lelaki datang secara bergelombang ke masjid. Ada yang berjalan kaki, tetapi kebanyakan menunggang sepeda motor. Mulanya jumlah mereka hanya satu-dua, kemudian menjadi belasan, puluhan, hingga ratusan.

Mereka mengenakan celana komprang di atas mata kaki, kemeja koko berlengan panjang, serta tutup kepala, yang semuanya serbaputih. Kebanyakan berjanggut. Jemaah Tabligh, sebutan buat mereka. Sebab, seusai salat magrib mereka bertablig; mengaji, berzikir, berdoa, serta mendengar ceramah.

Sebelum gempa melanda Kota Padang akhir September silam, ritual kaum Tabligh merupakan pemandangan lazim dan rutin. Ia menjadi agak tak lazim setelah gempa meretakkan bangunan masjid hingga dinyatakan tak layak huni oleh Tim Assessment Bangunan Gempa Sumbar.

Jemaah seperti tidak memedulikan peringatan. Seolah tak khawatir secuil pun jika saat sedang bertablig, bangunan runtuh menimpa mereka. “Habis, bagaimana lagi?” kata Haji Safril, sang pengurus masjid. Pengurus masjid sebetulnya tak tinggal diam melihat kondisi bangunan pascagempa. Mereka berupaya menggalang dana dari keturunan India-Arab di perantauah. Menurut perhitungan mereka, dana yang dibutuhkan sebesar Rpl,4 miliar. “Mengharap bantuan pemerintah, agak berat rasanya,” ujar Syafril.

Masjid Muhammadan berwarna dominan hijau muda. Bangunan ini bertarikh 1843 yang menandakan tahun pembangunan masjid. Boleh jadi inilah masjid tertua kedua setelah Masjid Ganting yang dibangun pada 1815 dan berjarak hanya 1,5 kilometer dari Masjid Muhammadan.

Akan tetapi, Masjid Ganting yang juga rusak berat akibat gempa bt ada di luar kawasan Kota Tua Padang. Pendiri Masjid Muhamm; dan adalah kaum pendatang asal Indu dan Arab. Orang Padang menyebut mereka orang keling. Keling artinya hitam, sebab keturunan India-Arab yang banyak bermukim di Kota Tua Padang memang berkulit hitam.

Saksi sejarah

Masjid tua Muhammadan merupakan bukti kedatangan kaum pendatang India-Arab ke Kota Padang, sedangkan Kelenteng See Hin Kiong menjadi bukti kedatangan orang Tionghoa ke kota ini. Dibangun pada 1861, kelenteng ini terletak hanya 200 meter dari Masjid Muhammadan. Kental dengan gaya arsitektur China, warna merah mendominasi Kelenteng See Hin Kiong.

Sejumlah bangunan di dalam kompleks kelenteng rusak parah karena gempa. Bangunan di bagian belakang kelenteng yang retak-retak terpaksa dirobohkan. Pengelola kelenteng kemudian membuat bangunan darurat untuk sembahyang serta tenda untuk menaungi antrean umat. Saat Imlek tempo hari, umat Buddha dan Konghucu terpaksa bersembahyang di bangunan darurat tersebut.

Masjid Muhammadan dan Kelenteng See Hin Kiong hanyalah dua dari sekitar 50 bangunan tua yang dilindungi Kota Tua Padang. Bangunan kuno lainnya ialah De Javasche Bank yang berdiri sejak 1930. Bangunan itu kini dipakai oleh Bank Mandiri.

Sekitar 500 meter dari De Javache Bank, berdiri bangunan bertarikh 1902. Bangunan dua lantai dengan panjang 50 meter ini dahulu merupakan pusat pendidikan agama Islam di Kota Padang. Bangunan lain yang menarik perhatian adalah bangunan bekas Padangsche Spaarbank atau Bank Tabungan Sumatera Barat yang dibangun pada 1908.

Berdiri di tepian Batang Arau dengan gaya arsitektur art deco ornamental, gedung ini disewa oleh seorang berkebangsaan asing. Si bule menyewakan kamar-kamar dalam bangunan sebagai tempat transit wisatawan mancanegara yang hendak berselancar ke Mentawai, kepulauan di lepas pantai barat Sumatra.

Ditinggalkan

Persis di depan bangunan atau tepatnya di tepi Batang Arau, sejumlah kapal kecil pengangkut wisatawan ke Mentawai bersandar. “Tapi, si orang asing meninggalkan bangunan ini setelah gempa,” kata Safri, warga setempat. Satu kilometer dari gedung Padangsche Spaarbank, berdiri bekas kantor Nederlandsche Handel Maatschappij. Bangunan ini dulu dipakai sebagai kantor dagang Belanda, pengganti VOC. Kantor Polsek Padang Selatan juga memanfaatkan salah satu bangunan tua di Kota Tua Padang.

Adapun Jembatan Siti Nurbaya, meski bukan jembatan tua, menjadi objek lain yang tak kalah menarik di Kota Tua Padang. Jembatan sepanjang sekitar 60 meter ini menghubungkan Kota Tua Padang dan Bukit Gunung Padang. Di bukit inilah terdapat satu makam yang diyakini makam Siti Nurbaya.

Sebagian proses pengambilan gambar sinetron Siti Nurbaya yang pernah tayang di TVR1 dekade 1990-an dilakukan di sini. Menjelang senja, kita bisa menikmati minuman ringan, roti bakar, jagung bakar, atau pisang bakar yang dijajakan puluhan pedagang kaki lima di sepanjang Jembatan Siti Nurbaya.

Sayang, akibat gempa, lampu penerangan di jembatan ini padam. Belum diperbaiki hingga kini. Sekarang jembatan pun gelap gulita kala malam. Padahal, nyala lampu menjadi pemandangan menarik Jembatan Siti Nurbaya di waktu malam.

Potensi wisata Kota Tua Padang yang berjarak hanya 3 kilometer dari pusat Kota Padang sesungguhnya amatlah besar. Kota Tua seolah menjadi saksi bahwa di sinilah peradaban ekonomi Padang berawal. Hingga sekarang pun kita masih dapat menyaksikan aktivitas ekonomi di Kota Tua.

Banyak bangunan tua berfungsi sebagai gudang, toko, atau pembudidayaan sarang walet. Akan tetapi, banyak bangunan tua- diperkirakan 50% rusak akibat gempa. Sejumlah bangunan hancur. Sejumlah lainnya tak lagi tegak berdiri, terlihat miring beberapa derajat. Sekitar 60% penghuninya, yang kebanyakan kaum Tionghoa, sudah mengungsi ke Riau, Medan, atau Jakarta.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Padang sekarang berupaya merehabilitasi kawasan Kota Tua Padang untuk mengembalikan potensi wisatanya. “Kami membutuhkan dana Rp400 miliar untuk rehabilitasi Kota Tua Padang,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Edi Hasymi.

Dia mengakui Pemerintah Kota Padang kesulitan mengadakan dana sebanyak itu. “Kami meminta pemilik bangunan merehabilitasi sendiri bangunan milik mereka dengan tetap memperhatikan struktur bangunan asli. Kami juga meminta bantuan pemerintah pusat, terutama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia,” paparnya.

Siapa pun yang pernah berkunjung ke Kota Tua Padang pastilah berharap Pemerintah Kota Padang mengembalikan keadaannya seperti sedia kala. Kita tak ingin gedung-gedung tua rusak dan telantar menjadi objek wisata Kota Tua Padang pascagempa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *