Memupus Tradisi WC Helikopter di Kelurahan Petogogan
30 Jan 2010
ROCHMADI, 50, berjalan perlahan sambil menjinjing gayung berisi seperangkat peralatan mandi. Seorang tetangga menyapanya, tepat di muka bangunan berdinding krem itu. "Reyen dulu nih," sapanya singkat pada sang tetangga, sembari langsung menaiki tangga yang pegangannya bercat biru. Bangunan dimaksud adalah tempat mandi, cuci, kakus (MCK) plus yang baru diresmikan pada Kamis (28/1) oleh Wakil Wali Kota Jakarta Selatan Anas Effendi. Di situlah Rochmadi sore itu berniat membersihkan tubuhnya setelah beraktivitas seharian. Pembangunan MCK seluas 9x5 meter yang terletak di RT 15/RW 3, Kelurahan Petogogan, itu mulai dikerjakan sejak September 2009. Pada Desember 2009, bangunan itu pun siap digunakan warga. Pembangunan MCK yang didanai USAID-ESP merupakan program lanjutan kerja samanya dengan Mercy Corps, Jakarta Flood Management I,dan Jakarta Flood" Management II.Siska Doviana, Communication Specialist ESP Jakarta, menuturkan harapannya bahwa dengan adanya MCK plus itu diharapkan warga sekitar mampu memulai hidup sehat dan berhenti buang hajat di bantaran Sungai Krukut. Sebelumnya, warga memang tidak memiliki alternatif selain menggunakan WC gantung yang dikenal dengan WC helikopter. Pada peresmian acara, Anas Effendi dalam sambutannya juga berharap adanya MCK plus membuat masyarakat berhenti buang hajat sembarangan dan mau merawat fasilitas yang sudah ada. Ditambahkannya, MCK itu dibubuhi kata plus karena bukan hanya berfungsi sebagai MCK, melainkan juga dapat menjadi tujuan evakuasi di kala banjir. "Makanya dibuat menyerupai lantai. Padahal sebetulnya lantainya hanya ada di atas. Lantainya ditinggikan 1,5 meter di atas permukaan tanah, agar jika terjadi banjir masyarakat bisa,mengungsi ke situ," paparnya. Nilai plus lainnya yang terdapat di situ adalah dilengkapinya MCK tersebut dengan instalasi pengolahan air limbah (1PAL) yang menggu-akan teknologi anaerobic baffled reactor(ABR). Dengan teknologi tersebut, kotoran disaring beberap.i kali sehingga limbah akhir cukup aman untuk dialirkan ke lingkungan setelah diolah. Di dalam MCK plus yang terdiri dari enam bilik toilet berukuran lxl meter itu, terdapat pula air bersih yang ditampung dalam ember sedang. Selain itu, ada juga sebuah ruang kamar mandi berukuran sedikit lebih luas dengan bak mandi berukuran 60x60x60 cm. Untuk perawatan, pengurus RW sekitar membentuk tim pengelola MCK yang dipimpin Mamat, Ketua RT 15. "Untuk perawatan, kami kenakan biaya Rpl.000 per hari per KK,"ujarnya. (Imam Safingi/J-4) |
|

