Kamis, 11 Maret 2010 | Jumlah artikel terbit hari ini: 1366

Bank Wong Cilik Kian Meraksasa

Penggagas berdirinya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk adalah Bei Aria Wirjaatmadja. BRI berdiri 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah dan menjadi, bank pribumi pertama di negeri ini dengan menyandang nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia (pribumi).

NERACA

Semula bank yang sempat terhenti untuk sementara waktu pada 1948, namun aktif kembali setelah perjanjian Renville Tahun 1949 ini, fokus menggarap segmen masyarakat di pedesaan, hingga mendapat julukan bank wong cilik atau bank masyarakat kecil. Akan tetapi pada perkembangannya, bank wong cilik ini telah merambah berbagai segmen lain, termasuk korporasi. Meski demikian portofilio kredit BRI tetap menjadikan wong cilik" sebagai market utamanya.

BRI sempat memasuki masa-masa kritis, yaitu ketika tahun 1997/1998 terjadi krisis moneter dan memaksa BEI harus masuk menjadi pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). BRI pun lalu di rekapitalisasi dengan suntikan obligasi pemerintah. Setelah program rekapitalisasi, manajemen pun diganti. Rudjito yang terpilih sebagai direktur utama bersama manajemen baru BRI lainnya segera membuat business plan yang mengukuhkan BRI tetap berfokus pada usaha kecil menengah dengan target minimum 80% dari total portofolio kredit.

Saat ini BRI termasuk bank nasional terbesar di Indonesia dan hanya kalah dari Bank Mandiri, sesama bank BUMN, ditilik dari sisi asetnya. Selain itu, BRI juga termasuk bank yang paling profit dan sehat, di antara lebih seratus bank di tanah air.Dengan kondisi keuangan yang relatif kuat, tercium kabar BRI akan memperluas diri dengan melakukan serangkaian akuisisi. Di kalangan pelaku pasar, santer diberitakan BRI tengah mengincar dua bank, yaitu Bank

Bukopin dan Bank Agro, pada semester II 2010. Nilai akuisisi bank tersebut sekitar Rp 2 triliun.Namun menurut manajemen emiten berkode saham BBRI ini, rencana tersebut masih dalam tahap due diligence untuk menentukan kelayakan rencana akuisisi tersebut. Hal itu disampaikan manajemen BRI dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/1).

Kinerja dan Prospek

Sepanjang tahun lalu BRI membukukan pertumbuhan laba bersih hingga 15% di 2009 lalu. Perolehan laba ini ditunjang pertumbuhan kredit dua kali diatas rata-rata bank yang mencapai 22%. Hal ini diungkap Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo usai RDP dengan Ko-.misi VI DPR di Jakarta, Rabu (3/2).

Menurutnya, pertumbuhan kredit 2009 telah mencapai 22% secara tahunan. Artinya pertumbuhan ini lebih dari dua kali lipat pertumbuhan kredit bank secara industri yang hanya membukukan 10,6%. Alhasil, perolehan laba bersih dari penyaluran kredit bank masih membukukan pertumbuhan yang cukup signifikan. "Laba tumbuh baik di 2009, yakni meningkat rata-rata 10% hingga 15%. Sementara itu pertumbuhan kredit sendiri tumbuh hingga 22%," jelas Sudaryanto.

Dengan kinerja di 2009 tersebut, Sudaryanto optimistis pertumbuhan laba dan kredit BRI di 2010 akan semakin baik. Hal ini sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi yang kembali pulih. Dia menyatakan bank pelat merah ini menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai diatas 20%. Untuk

mencapai target ini, sektor UM KM tetap menjadi andal-an, sedangkan sisanya pada sektor korpirasi. "Porsinya penyaluran kreditnya tetap 80% untuk UM KM dan 20% di kredit korporasi," tambahnya.Sudargo mengatakan, dengan pulihnya perekonomian seperti diperlihatkan oleh kinerja ekonomi makro baik ekspor maupun pertumbuhan industi, sektor korporasi diyakini bisa kembali menggeliat Untuk itu, bank penghasil laba terbesar ini mematok target pertumbuhan kredit korporasi sebesar 20% di tahun 2010. Pertumbuhan ini terutama ditopang akselerasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah yang banyak melibatkan perbankan sebagai sumber pembiayaan.

Lebih jauh, Sudargo mengatakan selain kondisi ekonomi yang semakin pulih, perkembangan suku bunga juga masih menunjang. Dengan suku bunga acuan BI yang bertahan di level 6,5% sampai saat ini, BRI memiliki ruang untuk menurunkan bunga lebih besar, hal ini sebenarnya telah dilakukan di 2009 lalu. Saat itu perolehan margin bunga bersih BRI mengalami penurunan dari 11% menjadi hanya 9%. Pasalnya, BRI telah menurunkan suku bunga kreditnya sejak bulan Juni 2009 sebesar 50 bps. "Suku bunga kredit kami sudah turun tiga kali sejak Juni 2009. Posisi bunga kredit kita sekarang berada di kisaran 12%," pungkasnya.

Terkait suku bunga, ia mengaku bank berplat merah itu telah menurunkan sejak bulan Juni tahun lalu sebesar 50 bps. Suku bunga kredit hingga saat ini telah turun hingga 3 kali sejak Juni 2009. kisaran bunganya berada di 12%. "Sektor korporasi saja bunga kreditnya sebesar 12%, tapi juga memiliki suku bunga 9,5% di segmen lain. Semua tergantung masing-masing segmennya," tambahnya. pph

Entitas terkaitArtinya | Bank | BBRI | BEI | BI | BRI | Bukopin | Indonesia | Kinerja | Laba | NERACA | Nilai | Penggagas | Perolehan | Pertumbuhan | Porsinya | Posisi | Prospek | RDP | Rudjito | Sektor | Semula | Sepanjang | Spaarbank | Sudargo | Sudaryanto | Suku | Tbk | Terkait | Bank Bantuan | Bei Aria | Jawa Tengah | Renville Tahun | UM KM | VI DPR | Bursa Efek Indonesia | Inlandsche Bestuurs Ambtenaren | Badan Penyehatan Perbankan Nasional | PT Bank Rakyat Indonesia | Simpanan Milik Kaum Priyayi | Bank Wong Cilik Kian Meraksasa | Direktur Keuangan BRI Sudaryanto Sudargo |
Ringkasan Artikel Ini
BRI berdiri 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah dan menjadi, bank pribumi pertama di negeri ini dengan menyandang nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Saat ini BRI termasuk bank nasional terbesar di Indonesia dan hanya kalah dari Bank Mandiri, sesama bank BUMN, ditilik dari sisi asetnya. Selain itu, BRI juga termasuk bank yang paling profit dan sehat, di antara lebih seratus bank di tanah air.Dengan kondisi keuangan yang relatif kuat, tercium kabar BRI akan memperluas diri dengan melakukan serangkaian akuisisi. "Porsinya penyaluran kreditnya tetap 80% untuk UM KM dan 20% di kredit korporasi," tambahnya.Sudargo mengatakan, dengan pulihnya perekonomian seperti diperlihatkan oleh kinerja ekonomi makro baik ekspor maupun pertumbuhan industi, sektor korporasi diyakini bisa kembali menggeliat Untuk itu, bank penghasil laba terbesar ini mematok target pertumbuhan kredit korporasi sebesar 20% di tahun 2010.

Jumlah kata di Artikel : 739
Jumlah kata di Summary : 149
Ratio : 0,202

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.
Pendapat Anda
Pendapat anda mengenai ringkasan artikel ini : Baik Buruk